PRODI ILMU HADIS

Berita & Kabar Terkini

Ikuti perkembangan terbaru, prestasi akademik, agenda kampus, dan kontribusi nyata kami.

cover berita
Berita

Menyelami makna hadis sepertiga malam dalam perspektif pemikiran mu'tazilah

2026-08-01 09:51:30 146x


Di tengah pesatnya perkembangan media digital, hadis-hadis Nabi Muhammad SAW semakin mudah diakses melalui berbagai platform media sosial. Kondisi ini membawa dampak positif karena masyarakat semakin dekat dengan ajaran Islam. Namun, di sisi lain, kemudahan tersebut juga menimbulkan tantangan, yakni kecenderungan memahami hadis hanya berdasarkan makna lahiriahnya tanpa memperhatikan penjelasan para ulama maupun kaidah-kaidah keilmuan dalam memahami hadis. Salah satu hadis yang sering menjadi pembahasan adalah hadis tentang turunnya Allah SWT pada sepertiga malam terakhir, yang termasuk dalam kelompok hadis mutasyabihat dan telah melahirkan beragam pendekatan penafsiran di kalangan ulama.


Hadis tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ



Artiya : Rabb kita Tabāraka wa Ta'ālā turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Kemudian Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni. (HR. Bukhari No. 6940).

Hadis ini memiliki kedudukan yang penting karena menunjukkan keutamaan sepertiga malam sebagai waktu yang sangat dianjurkan untuk bermunajat, berdoa, dan memohon ampun kepada Allah SWT. Perbedaan pandangan para ulama terhadap hadis ini bukan terletak pada penerimaan riwayatnya, melainkan pada metode memahami lafaz "yanzilu rabbunā" (Rabb kita turun), yang secara lahiriah dapat dipahami sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Perbedaan metode penafsiran inilah yang kemudian melahirkan diskusi teologis di kalangan para ulama.

Salah satu kelompok yang memberikan perhatian khusus terhadap lafaz tersebut adalah Mu'tazilah. Dalam kerangka teologinya, Mu'tazilah sangat menekankan prinsip tanzīh, yaitu menyucikan Allah SWT dari segala bentuk keserupaan dengan makhluk. Oleh karena itu, lafaz "turun" tidak dipahami sebagai perpindahan fisik sebagaimana makhluk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Menurut mereka, pemahaman seperti itu berpotensi menyerupakan Allah dengan makhluk (tasybīh), sehingga diperlukan pendekatan takwil agar makna hadis tetap sejalan dengan prinsip keesaan dan kesucian Allah SWT.

Melalui pendekatan tersebut, Mu'tazilah menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan "turunnya Allah" adalah turunnya rahmat, limpahan kasih sayang, perintah, atau kedekatan Allah kepada hamba-hamba-Nya pada waktu sepertiga malam terakhir. Dengan demikian, penafsiran tersebut bukan dimaksudkan untuk menolak hadis, melainkan sebagai upaya memahami lafaz yang bersifat mutasyabihat agar tidak menimbulkan kesan bahwa Allah memiliki sifat-sifat jasmani sebagaimana makhluk.

Dalam perspektif Mu'tazilah, takwil dilakukan sebagai ikhtiar menjaga kemurnian akidah dengan tetap menyucikan Allah SWT dari segala bentuk keserupaan dengan makhluk (tanzih). Oleh karena itu, perbedaan yang muncul bukanlah pada pengakuan terhadap keabsahan hadis, melainkan pada metode memahami lafaz yang termasuk kategori mutasyabihat. Kajian ini tidak dimaksudkan untuk menilai benar atau salah suatu mazhab teologi, tetapi untuk menunjukkan keragaman metodologi ulama dalam memahami hadis sehingga dapat memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Terlepas dari perbedaan metode penafsiran tersebut, substansi hadis tetap mengandung pesan spiritual yang sama, yaitu mendorong setiap muslim untuk memanfaatkan sepertiga malam terakhir sebagai waktu terbaik untuk beribadah. Pada saat itulah seorang hamba dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, dan munajat kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan. Pesan inilah yang menjadi titik temu berbagai pandangan ulama, termasuk dalam perspektif Mu'tazilah, bahwa kemuliaan waktu sepertiga malam hendaknya diwujudkan melalui peningkatan kualitas ibadah dan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.

Keutamaan sepertiga malam juga diperkuat oleh hadis lain yang menjelaskan kebiasaan ibadah Nabi Daud AS. Rasulullah SAW bersabda:


أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Artinya: bahwa 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash radhiallahu'anhu'anhuma mengabarkannya bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkata kepadanya, "Salat yang paling Allah cintai adalah salatnya Nabi Daud 'alaihissalam dan puasa yang paling Allah cintai adalah puasanya Nabi Daud 'alaihissalam. Nabi Daud 'alaihissalam tidur hingga pertengahan malam lalu salat pada sepertiganya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya. Dan Nabi Daud 'alaihissalam puasa sehari dan berbuka sehari".(H.R Shohih Bukhori no 1063) no 1131 Versi Fathul Bari.

Hadis ini menunjukkan bahwa sepertiga malam bukan hanya waktu yang dianjurkan untuk berdoa, tetapi juga merupakan waktu yang paling utama untuk melaksanakan qiyamul lail atau salat tahajud. Oleh karena itu, apabila hadis tentang yanzilu rabbunā dipahami melalui pendekatan takwil sebagaimana dilakukan Mu'tazilah, maka substansi ajarannya tetap mengarah pada dorongan agar seorang hamba memanfaatkan waktu tersebut untuk meningkatkan kualitas ibadahnya. Dengan kata lain, perbedaan penafsiran terhadap lafaz "turun" tidak mengurangi pesan utama hadis, yaitu ajakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu yang penuh keberkahan. Pesan tersebut juga selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra' ayat 79:

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا ٧٩ 

Artinya: Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu mudah mudahan tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QR.Surat Al-isra’ ayat 79).

Ayat ini menunjukkan bahwa qiyamul lail merupakan ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, salat tahajud juga menjadi jalan untuk memperoleh kemuliaan spiritual. Karena itu, para ulama memandang sepertiga malam sebagai momentum yang sangat tepat untuk memperbanyak ibadah, baik berupa salat, doa, maupun zikir. Demikian pula dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 17–18 

كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ١٧ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ١٨

Artinya: Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.(Q.R Surat adz-dzariyat 17-18)

Ayat ini semakin menguatkan bahwa sepertiga malam merupakan waktu yang penuh dengan rahmat dan ampunan. Oleh sebab itu, penafsiran Mu'tazilah yang memaknai yanzilu rabbunā sebagai turunnya rahmat dan kasih sayang Allah masih sejalan dengan semangat ayat-ayat Al-Qur'an yang mendorong umat Islam memperbanyak ibadah pada waktu tersebut.

Pada akhirnya, perbedaan cara memahami hadis tentang turunnya Allah tidak semestinya menjadi alasan untuk mempertentangkan satu pendapat dengan pendapat lainnya. Yang lebih penting adalah menangkap pesan utama yang terkandung di dalam hadis tersebut, yakni anjuran untuk memperbanyak doa, istighfar, dan qiyamul lail pada sepertiga malam terakhir. Dalam perspektif Mu'tazilah, takwil dilakukan sebagai ikhtiar menjaga kemurnian akidah dengan menyucikan Allah dari sifat-sifat makhluk, sementara nilai spiritual yang terkandung dalam hadis tetap dipertahankan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kesibukan dan arus informasi yang begitu cepat, hadis ini tetap memiliki relevansi yang kuat. Sepertiga malam menjadi momentum bagi setiap muslim untuk sejenak meninggalkan kesibukan dunia, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta memohon rahmat, ampunan, dan pertolongan-Nya. Dengan demikian, apa pun pendekatan yang digunakan dalam memahami lafaz yanzilu rabbunā, tujuan akhirnya tetap sama, yaitu mengantarkan seorang hamba agar semakin dekat kepada Allah melalui ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan penghayatan.


Editor : HMPS Ilmu Hadis Nurul Qadim

Tautan berita berhasil disalin!