JOMBANG — Dosen Program Studi Ilmu Hadis STAI Nurul Qadim Probolinggo turut mengambil bagian dalam Annual Meeting Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) dan International Conference on Hadith Studies (ICHS) 2026 yang diselenggarakan pada 5–7 Oktober 2026 di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Forum tersebut mengangkat tema “The Development of Hadith Studies in Pesantren: From the Tradition of Transmission to Contemporary Knowledge Production.” Tema ini menyoroti perkembangan studi hadis di pesantren, mulai dari tradisi transmisi keilmuan hingga pengembangan pengetahuan hadis dalam konteks akademik dan kontemporer.
Dalam forum internasional tersebut, dua dosen Program Studi Ilmu Hadis STAI Nurul Qadim, Muhammad Basyir Faiz Maimun dan Muhammad Sholihin, tampil sebagai pemateri dengan mengangkat kajian berjudul:
“Power/Knowledge in the Making of Tradition: Discourse, Selection, and Authority in K.H. Muhammad Hasyim Asy‘ari’s Arba‘īn.”
Keterlibatan kedua dosen tersebut menunjukkan bahwa kajian Ilmu Hadis di lingkungan STAI Nurul Qadim tidak hanya berfokus pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga diarahkan pada pengembangan kajian ilmiah dan partisipasi dalam forum akademik pada tingkat internasional.
Selain berpartisipasi dalam forum akademik, rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi tiga dosen Program Studi Ilmu Hadis STAI Nurul Qadim untuk memperoleh ijazah sanad Kitab Shahih al-Bukhari dan Kitab al-Muwatta’ Imam Malik.
Ketiga dosen tersebut adalah Muhammad Sholihin, Muhammad Basyir Faiz Maimun, dan Syamsul Arifin. Ijazah sanad Kitab Shahih al-Bukhari diperoleh melalui KH. Muthohharun Afif, Lc., M.H.I., selaku sambung sanad dan mujiz Kitab Shahih al-Bukhari. Sementara ijazah sanad Kitab al-Muwatta’ Imam Malik diperoleh melalui KH. Taufiqurrahman Muchit, selaku sambung sanad dan mujiz Kitab al-Muwatta’.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh dalam tradisi pesantren dan pengembangan studi hadis, di antaranya KH. Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang dan Ketua Umum PBNU. Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, Rais M2 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, sekaligus Ketua Panitia MUTUN Serta Prof. Dr. Saifuddin Zuhri Qudsy, S.Th.I., M.A., Ketua Umum Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA).
Perolehan ijazah sanad tersebut memiliki relevansi kuat dengan pengembangan keilmuan di Program Studi Ilmu Hadis STAI Nurul Qadim. Sanad tidak hanya dipahami sebagai mata rantai transmisi keilmuan, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi akademik Islam yang menghubungkan proses pembelajaran antara Dosen, mahasiswa, dan sumber keilmuan sebelumnya. Tradisi ini juga memiliki keterkaitan dengan kekhasan tugas akhir mahasiswa Prodi Ilmu Hadis yang diarahkan pada kegiatan mensyarahi Kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik.
Melalui kegiatan syarah, mahasiswa diarahkan untuk tidak hanya membaca dan memahami teks hadis, tetapi juga melakukan kajian terhadap makna, kandungan, konteks, serta penjelasan ilmiah terhadap hadis yang dikaji. Dengan demikian, proses akademik mahasiswa memiliki keterhubungan dengan tradisi keilmuan hadis yang telah berkembang dalam khazanah Islam.
Hal tersebut semakin menemukan relevansinya ketika dosen Program Studi Ilmu Hadis memperoleh ijazah sanad Kitab al-Muwatta’ dalam forum keilmuan di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng. Tradisi sanad, kajian akademik, dan praktik syarah menjadi tiga unsur yang dapat saling memperkuat dalam pengembangan pembelajaran Ilmu Hadis.
Keterlibatan dosen sebagai pemateri dalam ICHS 2026 sekaligus perolehan ijazah sanad menjadi bagian dari upaya Program Studi Ilmu Hadis STAI Nurul Qadim dalam mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan pengembangan studi hadis di perguruan tinggi.
Melalui langkah tersebut, Prodi Ilmu Hadis tidak hanya berupaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan ulama, tetapi juga mendorong dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan kajian hadis yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan akademik kontemporer.
Editor : Divisi_Media_HMPS_ILHA_STAI Nurul Qadim